Showing posts with label JebeArtikel. Show all posts
Showing posts with label JebeArtikel. Show all posts

Idealisme mahasiswa ikut tergerus zaman

Perubahan jabatan dari siswa menjadi mahasiswa seperti suatu yang sangat sakral dan membanggakan bagi sebagian besar dari kita. Cukup dengan penambahan suku kata ‘maha’, menjadikan kata siswa begitu agung dan penuh dengan perubahan. Yang awalnya setiap hari harus menjalani rutinitas di sekolah, dari pagi hingga siang atau sore, dengan pelajaran yang sudah dibakukan menjadi kurikulum, memakai seragam setiap hari. Kemudian seketika, frasa ‘maha’ itu membuat semuanya berubah. Kuliah dengan waktu yang tidak ber-pakem lagi, dengan mata kuliah yang bisa kita pilih sendiri, dan yang biasanya paling ditunggu-tunggu seorang siswa yang beranjak menjadi mahasiswa adalah tidak perlu lagi memakai seragam untuk ke kampus. Namun sedemikian sederhanakah perbedaan yang akan dialami dalam proses transformasi dari siswa menjadi mahasiswa? Tentu tidak.
Mahasiswa identik dengan sederet titel sosial mulai dari agent of change, agent of social control. Bahkan, menurut sebagian besar masyarakat menyebut mahasiswa adalah orang yang serba bisa, serba tahu berbagai persoalan yang muncul dalam masyarakat. Hal ini menjadikan mahasiswa sebagai kaum elit dan terhormat dibanding dengan kaum muda lainnya. Kaum intelektual.
Menjadi mahasiswa tak lengkap rasanya kalau tidak mempunyai satu sifat naluri idealisme, idealisme muncul seiring dengan kedewasaan mahasiswa itu sendiri, ditunjang dengan lingkungan kampus yang menjadikan mahasiswa mempunyai pendirian teguh di kala benar dan salah.
Mestinya, idealisme akan selalu melekat dalam nurani setiap insan manusia. Dalam hidup dan kehidupan, idealisme adalah suatu nilai yang sangat penting. Idealisme menunjukkan adanya kehendak untuk menggapai masa depan yang lebih baik dan bermakna bagi kehidupan. Idealisme bukan sesuatu yang sifatnya statis. Idealisme adalah sesuatu yang dinamis dan bergerak sesuai dengan konteks perkembangan jaman. Sebagai gambaran, idealisme bangsa di masa penjajahan adalah memerdekakan bangsa dan idealisme di masa kini adalah bagaimana kemampuan dan kesungguhan kita dalam mengisi kemerdekaan yang telah kita raih itu
Beberapa pengalaman membuktikan, idealisme seseorang itu akan berkorelasi positif dengan bertambahnya usia seseorang. Akibatnya, wajar terjadi sekiranya di kala dirinya muda atau tatkala menjadi mahasiswa, kadar idealismenya akan sangat tinggi, namun setelah dirinya bekerja dan berumahtangga, maka idealisme yang dimilikinya pun mengalami pemudaran.
Suasana yang demikian, bukanlah sekedar omong kosong. Walau tidak berlaku universal, umumnya mereka yang ketika menjadi mahasiswa terlihat getol berteriak dan melakukan pengkritisan atas berbagai kebijakan Pemerintah yang dinilainya tidak pro rakyat, namun setelah dirinya lulus dari Universitas kemudian bekerja di Pemerintahan, teriakan-teriakannya itu mulai menghilang dan hampir tidak terdengar lagi. Dirinya terlihat asyik dengan pekerjaan yang harus digarapnya, dan terkadang menjadi tidak peduli lagi atas apa-apa yang tengah tercipta di masyarakat.
Terkadang idealisme yang sangat diagung-agungkan mahasiswa tidak cukup hanya karena sadar saja, melainkan butuh komitmen untuk menjalankannya. Mahasiswa yang berkewajiban sebagai agent of countrol memang mudah mengontrol penguasa. Mudah, karena tidak diposisi mereka (si penguasa). Kalau sudah diposisi seperti itu, belum tentu mampu mempertahankan idealisme tadi.
Salah satu contoh kecil saja, di saat tahun ajaran baru. Ditengah kampus menaikkan biaya perkuliahan, organ-organ intra mahasiswa yang dimana diduduki oleh orang-orang yang idealis tadi justru ikut menaikkan biaya masuk ke organ-organ mereka. Mereka justru penyumbang kesengsaraan pada orang tua calon mahasiswa baru yang tergolong kurang mampu. Mereka baluti aksi mereka itu sembari berkata, ini uang kaos, uang stiker, uang slayer, dan uang yang lainnya. Sudah menjadi rahasia umum, fenomena tahun ajaran baru merupakan ladang basah bagi mahasiswa lama. Tanpa disadari setiap tahunnya idealisme mahasiswa lama runtuh, yang mereka gadaikan pada kepentingan semu.
Contoh lainnya, ada seseorang yang dulunya adalah orang yang selalu membela kepentingan rakyat ketika masih kuliah. Pikirannya tajam, setajam pisau, mengkritisi kebijakan-kebijakan pemerintahan kala itu. Tetapi sekarang, karena dia menggantungkan ekonomi keluarga pada sebuah bisnis yang dirintisnya sendiri, maka lunturlah semua yang diidealkannya semasa kuliah dulu. Sogok kanan, sogok kiri, kolusi, dan lain-lain perbuatan tercela dilakukannya demi memperoleh order untuk perusahaannya. Dia bisa saja berkilah kalau perusahaan bangkrut, maka banyak karyawan yang akan di PHK. Ujung-ujungnya rakyat kecil juga yang kena.
Selain itu jika di gambarkan, mahasiswa jaman sekarang hanya memikirkan 3K yaitu kekuasaan , kepentingan dan keuangan / uang. Tiga pilar tersebut seolah telah membutakan pikiran dan arah perjuangan mahasiswa untuk memperjuangkan hal-hal yang patut untuk diperjuangkan. Berbeda dengan mahasiswa jaman dahulu seperti angkatan 80-an sampai era 90-an dimana transformasi perjuangan mahasiswa disini dilakukan untuk tujuan yang jelas tanpa ada embel-embel apapun. Idealisme yang mereka bawa pada saat itu mempunyai satu tujuan yang sama yaitu keadilan, kebebasan dan kemakmuran yang lebih baik. Tidak ada kata lain selain tiga hal tersebut yang diperjuangkan. Idealisme mahasiswa kala itu adalah idealisme yang benar dan bertanggung jawab dalam kacamata kebenaran tujuan dan arah pergerakan mahasiswa.
Idealisme era sekarang dan dulu sudah tidak sama lagi dalam konteks perjuangan dan pergerakan mahasiswa dalam berpikir dan bertingkah laku, terjadi pergeseran amat jauh dari beberapa segi kehidupan yang ada mulai dari kebebasan yang tak bertanggung jawab sampai pada masuk ke ranah hal-hal yang terlewat batas norma perilaku kehidupan sehari-hari.
Di sinilah pentingnya berkaca dari masa lalu. Semangat intelektualitas di era 80-an mesti dihidupkan kembali. Semangat perjuangan dan pergerakan mahasiswa dalam menyuarakan “benar katakan benar dan salah katakan salah", yang lantas melahirkan kritisisme, kepekaan sosial, dan idealisme tinggi.
Seharusnya keberadaan mahasiswa yang menjadi salah satu bagian dari ‘pemuda’ akan mampu memberikan sumbangsih yang pada akhirnya membawa kebermanfaatan bagi diri kita secara pribadi, orang lain, bangsa Indonesia, dan agama yang kita yakini. Terdengar klise memang. Tapi tak ada salahnya berpikiran seperti itu. Baiknya idealisme yang kita semua agung-agungkan itu tidak akan luntur setelah kita terlepas dari status sebagai mahasiswa dan terjun di kehidupan yang sesungguhnya.
Namun jika berpikir secara minimalis, setidaknya mereka yang saat ini tidak idealis, pernah menjadi idealis dan berjuang dengan tulus untuk rakyat, untuk perubahan, daripada tidak pernah menjadi idealis sama sekali, walaupun diujung cerita jalan hidup menentukan yang berbeda. Setidaknya mereka telah berhasil menumbangkan sebuah tirani orde baru, walaupun akhirnya mereka terlibat dalam pembentukan tirani berikutnya.

Sudahkah Buruh Sejahtera Hari ini?


Doc. Pelitaonline.com
Unjuk rasa yang dilakukan buruh terus berulang setiap tahun, mereka berunjuk rasa untuk isu yang sama yakni mengenai upah. Tiga pihak yang terkait di dalam isu ini yaitu pemerintah, pengusaha dan buruh, agaknya melihat persoalan ini dengan cara pandang yang berbeda sehingga sulit menemukan titik temu.
Untuk tahun 2012 saja, di Karawang, Serikat Pekerja Seluruh Indonesia mengancam akan melakukan aksi mogok kerja secara massal jika upah minimum kabupaten pada 2012 tidak dinaikkan menjadi 100 persen Kebutuhan Hidup Layak yang angkanya mencapai Rp1.387.133.  Di  Bekasi, sekitar 1.000 orang buruh dari Gerakan Serikat Buruh Indonesia (Gesburi) berunjuk rasa menuntut kenaikan Upah Minimum Kabupaten (UMK) di Kantor Bupati Bekasi, Jawa Barat. Mereka  menuntut Pemerintah Kabupaten Bekasi untuk menaikkan UMK sebesar 100 persen dari UMK tahun 2011. Di Kabupaten Bandung, sekitar 25 ribu buruh dari Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (SPSI) berunjuk rasa di depan komplek Pemkab Bandung. Mereka mendesak kenaikan Upah Minimum Kabupaten (UMK) 2012 sebesar 10 persen UMK 2011 Rp1.123.800 . Sementara itu di Kota Bandung, Kadisnaker Kota Bandung Hibarni Andan Dewi mengimbau perusahaan untuk patuh jika UMK 2012 yang diusulkan naik tujuh  persen, nantinya disahkan.  Dengan kenaikan itu maka UMK Kota Bandung akan naik dari Rp 1.271.625 pada 2012 dari yang sebelumnya Rp 1.188.435.
Demo para buruh yang menuntut kenaikan gaji UMR terbilang memprihatinkan dan menyedihkan. Mengapa memprihatinkan? Karena saat ini untuk menaikkan kesejahteraan, para buruh harus terlebih dahulu melakukan aksi demonstrasi.  Kemudian sekaligus menyayangkan, karena sistem produksi di banyak pabrik lumpuh serta mengganggu ketertiban umum. Banyak orang yang pro dan kontra mengenai aksi buruh ini, ada juga orang yang peduli dan skeptis.  Tetapi banyak pertanyaan berapa sebetulnya gaji UMR di tiap Kota di Indonesia di tahun 2012?
Orang yang menganggap skeptis berpikir bahwa aksi yang dilakukan para buruh ini tentunya tidak harus sampai menutup akses jalan. Kemudian bagaimana apabila produksi pabrik mereka bekerja lumpuh, kemudian perusahaan gulung tikar? Bukankah mereka menjadi tidak bisa bekerja dan mendapatkan uang lagi? Kemudian orang skeptis yang terakhir mengatakan apabila gaji mereka kecil, mengapa tidak pindah atau berwirausaha? Tetapi apapun yang dilakukan para buruh menuntut kenaikan gaji UMR 2012 ini memang harus dilakukan karena melihat semakin naiknya harga-harga barang kebutuhan pokok.
Tidak bisa dipungkiri memang, diantara banyak permasalahan seputar buruh, permasalahan mengenai kesejahteraan merupakan masalah yang sensitif yang selalu dibicarakan karena menyangkut kelangsungan hidup seseorang. Dari tahun ke tahun permasalahan klasik yang muncul adalah keinginan buruh untuk menaikkan upah mereka. Hal ini dikarenakan upah yang mereka terima tidak sebanding atau mencukupi untuk memenuhi kebutuhan riil. Kalau diibaratkan kenaikan harga kebutuhan pokok "berlari" sedangkan upah buruh justru "jalan ditempat" tidak ada peningkatan atau malah justru mundur.
Di Indonesia, ketika kita berbicara tentang buruh, buruh itu selalu diidentikkan dengan kemiskinan, kumuh, untuk makan "harus gali lobang tutup lobang", termarginalkan. Buruh inilah yang kemudian dilihat dari tingkat kesejahteraannya berada pada level bawah masyarakat. Padahal, buruh itu merupakan salah satu unsur pendukung dari unit produksi yang memegang peranan penting dalam menghasilkan suatu produk.
Di sisi lain, pengusaha atau pemilik modal selalu melihat buruh sebagai budak yang mereka pekerjakan dengan upah seadanya sesuai kemampuan pengusaha, sehingga tidak jarang upah buruh yang sudah minim dipotong sana sini bahkan di tunda pembayarannya gara-gara alasan ketidakmampuan pemilik modal. Buruh dipandang sebagai faktor produksi yang sama dengan faktor produksi lain misalnya bahan baku, yang apabila tidak dibutuhkan lagi akan diganti, dibuang seenaknya tanpa ada kompensasi dan memiliki keuntungan di mata pemilik modal. Mereka hanya layaknya sebuah alat produksi yang menghasilkan barang. Kondisi yang seperti ini akan menciptakan kebosanan dan akhirnya akan menurunkan produktivitas. Rendahnya produktivitas inilah yang menjadi senjata pemilik modal untuk memberikan tingkat kesejahteraan buruh yang sangat rendah.
Kemudian posisi buruh yang serba sulit juga disebabkan oleh hubungan antara buruh dan pengusaha. Dimana-mana, antara buruh dan pengusaha selalu memiliki perbedaan kepentingan yang mendasar. Di pihak buruh, motif utama ia bekerja kepada pengusaha adalah untuk mendapat upah, sebagai pertukaran atas tenaga kerja yang telah ia keluarkan untuk berproduksi. Upah yang diharapkan tidak hanya sekedar untuk memulihkan tenaganya agar dapat bekerja kembali keesokan harinya (sekedar hidup), namun juga untuk dapat memenuhi kebutuhan hidup dirinya dan keluarganya secara layak sesuai dengan standar manusiawi. Di pihak pengusaha, laba dan terus mendapatkan laba sebanyak-banyaknya adalah tujuan yang utama.
 Dua kepentingan yang bertolak belakang tersebut akan menghasilkan keadaan yang tidak seimbang antara buruh dengan pengusaha. Buruh tidak bisa menuntut apa-apa karena hidup mereka berada ditangan pengusaha. Solusi yang mungkin bisa membantu buruh adalah munculnya peran pihak ketiga yang mampu menjembatani sekaligus memiliki kekuatan untuk menekan pengusaha yang dalam posisi ini dipegang oleh pemerintah. Kenyataannya, pemerintah pun kemudian tidak bisa berbuat apa-apa bahkan cenderung di atur pengusaha sehingga buruh harus memperjuangkan nasibnya sendirian.
Kadang kala, buruh dituntut untuk berkompetisi dengan buruh lain untuk meningkatkan kinerja dan produktivitas mereka demi mengejar kesejahteraan (bonus) yang lebih besar. Dengan kata lain, antar sesama buruh kemudian saling bersaing satu sama lain yang dalam konteks solidaritas kemudian inilah yang menghambat terbentuknya solidaritas kolektif sesama buruh. Konsekuensinya, serikat buruh tidak mendapat dukungan penuh dari semua buruh dan pemilik modal diuntungkan dengan kondisi ini.
Sistem kontrak dan outsourcing pun turut menjadi faktor penyebab sulitnya kaum buruh untuk mendapatkan kesejahteraannya. Sistem kontrak memunculkan praktek eksploitasi terhadap tenaga kerja yang dilakukan oleh perusahaan pengerah tenaga kerja. Buruh harus menyalurkan beberapa persen dari gaji mereka yang minim untuk disalurkan pada perusahaan yang membawa mereka. Hal ini terpaksa harus mereka lakukan demi mempertahankan pekerjaan mereka. Bagaimana buruh mau sejahtera?
Upah kerja yang diterima buruh diibaratkan minimum, namun jam kerjanya maksimum. Bayangkan saja, umumnya pekerja itu di upah dengan ukuran perjam, tetapi di Indonesia untuk delapan jam mereka membayar upah sama dengan upah karyawan satu jam. Walaupun upah yang mereka terima sangat minim, tetapi pekerjaan yang harus mereka lakukan persis sama dengan karyawan tetap. Problem lainnya, selama ini upah buruh tidak sebanding dengan pengeluaran yang harus buruh keluarkan untuk memenuhi kebutuhan pokok mereka. Upah yang diterima mungkin cukup untuk memenuhi kebutuhan pribadi, tetapi tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan anak dan istri.
Permasalahan mengenai peningkatan kesejahteraan buruh kiranya tidak akan dapat dipecahkan oleh buruh sendiri atau negara bahkan pengusaha. Masing-masing pihak tentu mempunyai kepentingan sendiri-sendiri. Buruh tentu saja ingin meningkatkan taraf kehidupannya, negara ingin berperan besar dalam mengetas kemiskinan dan membuka banyak lapangan kerja, dan pengusaha selalu berusaha mencari keuntungan sebesar-besarnya. Ketiga pihak inilah yang kemudian dituntut untuk saling berdiskusi satu sama lain untuk memberikan pemecahan dalam kaitannya dengan kesejahteraan buruh.
Solusi pertama datang dari buruh, yakni dengan meningkatkan solidaritas kaum buruh. Serikat buruh dapat dijadikan ujung tombak, tapi harus benar-benar solid jika ingin melakukan perubahan. Kita dapat berkaca pada beberapa negara maju yang efektif memanfaatkan serikat buruh untuk mengubah suatu kebijakan.  Dan salah satu cara yang bisa dikembangkan dari serikat buruh ini adalah dengan membentuk koperasi yang nantinya akan menjamin mereka apabila terjadi pemutusan hubungan kerja. Selain sebagai jaminan sosial, koperasi juga mampu menghimpun dana buruh untuk melakukan aksi.
Solusi kedua datang dari pemilik modal. Perubahan cara pandang mereka terhadap buruh harus diubah. Buruh bukan lagi alat atau faktor produksi, tetapi merupakan partner. Cara lain adalah dengan Corporate Social Responsibility (CSR) suatu bentuk tanggung jawab perusahaan kepada masyarakat.
Solusi yang ketiga datang dari negara. Negara akan memainkan peran penting dalam peningkatan kesejahteraan buruh. Kebijakan mengenai UMR perlu disempurnakan. UMR harusnya berkaca pada tingkat kebutuhan riil tenaga kerja dan disesuaikan dengan inflasi dan pertumbuhan ekonomi. Kebijakan-kebijakan yang pemerintah keluarkan seharusnya memenuhi sisi keadilan, sehingga negara tidak lagi lebih condong kepada pihak pemilik modal dan dijadikan boneka pengusaha, tetapi mampu menjalankan fungsinya sebagai pelindung dan penjaminan hak-hak masyarakat.